Kamis, 27 Agustus 2020

Memulai Kembali

     Awal mula membuat blog ini karena untuk tugas kuliah, dan setelah selesai perkuliahan jelas sudah tidak pernah membuka blog ini sama sekali. Bahkan sempat berpikir tidak akan melanjutkan blog ini lagi. Tapi, pada pertengahan bulan Agustus 2020 akhirnya mencoba mencari blog ini. Alasan mencarinya karena saat KKN salah satu proker yang dilaksanakan yaitu membuat blog untuk desa. Dan karena sebelumnya pernah membuat blog ini, jadilah kepikiran untuk mencari blog ini. Setelah ketemu, terus bingung masuk ke akunnya gimana. Maklum lah ya, buatnya aja tahun 2017. Sampai tahun 2020 udah tiga tahun yang lalu. Jadi lupa hehehe, lupa cara masuknya gimana, lupa pakai email yang mana. Hadeuhhh... Tapi akhirnya pada tanggal 28 Agustus 2020 bisa masuk ke akun blog ini. Jadilah ada postingan iniiiii hihi. 

    Untuk kedepannya blog ini mau diisi apa, masih belum tau. Udah kepikiran sih, tapi konsepnya belum mateng dan masih bisa berubah. Mungkin bisa diisi curhatan-curhatan kayak gini wkwk, atau mungkin karya hahaha belum tau karya apaan. Ditunggu aja deh (kayak ada yang nunggu aja wkwk, yang baca aja gak ada hoho).

Rabu, 20 Desember 2017

Berita UIN SUKA

Semangat perjuangan yang selama ini telah dilakukan pegiat difabilitas, mulai dari ratifikasiConvention on the Rights of Persons with Disabilities(CRPD) menjadi UU Nomor 8 tahun 2016, sampai berlangsungnya proses penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) merupakan langkah besar. Langkah besar ini tentunya juga memperbesar peluang yang memungkinkan terciptanya pendidikan inklusif di Perguruan Tinggi. Untuk memantapkan perjuangan itu, beberapa perguruan tinggi yang respek terhadap pendidikan difabel seperti UIN Sunan Kalijaga, UII, UIN Syarief Hidayatullah, IAIN Solo, Universitas Surabaya, Universitas Indonesia, Alicante University Spanyol, didukung Dirjen Pendidikan Tinggi sedang merintis berdirinya organisasi difabel nasional di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Untuk kepentingan itu, diselenggarakan Konferensi Nasional bertajuk “Ensuring Access and Quality Education for Students with Disabilities in Indonesian Universitiesdan Launching Program INDOEDUC4ALL,di gedung RHA. Soenarjo, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (14/12).
Mantan ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga, yang saat ini masih aktif (turut) mengembangkan keberadaan PLD, Dr. Rof’ah ditemui di sela-sela acara menyampaikan, dirintisnya organisasi difabel nasional dan dilaunchingnya program INDOEDUC4ALL di kampus UIN Sunan Kalijaga, tentunya memberikan semangat tersendiri untuk membenahi pendidikan di Perguruan Tinggi agar memberikan akses yang sama terhadap mahasiswa difabel. Hal ini menjadi modal bagi keberlangsungan perjuangan para organisasi difabel dalam mengawal kebijakan pemerintah, khususnya di wilayah pendidikan.
Ia mencontohkan bagaimana peran organisasi difabel dalam menterjemahkan atau memahami impelementasi pendidikan inklusi. Mulai dari Taman Kanak-kanak (TK,) Sekolah Dasar (SD,) Sekolah Menengah Pertama (SMP,) Sekolah Menengah Atas (SMA,) sampai Perguruan Tinggi. Mendetailkan teknis pelaksanaan dari poin-pon yang ada di dalam CRPD dan UU Penyandang Disabilitas.
“Mulai dari apa yang harus dilakukan, seperti assisstive teknologi apa yang harus ada, kemudian pentingnya unit difabilitas di semua pelayanan pendidikan, ketersedian sarana dan prasarana itu menjadi penting kunci sukses pendidikan inklusi,” sambung Ro’fah.
Menurut Rof’ah, di kampus UIN Sunan Kalijaga, sebelum berdirinya PLD para mahasiswa telah aktif memberi pendampingan kepada para mahasiswa difabel. Karena memang sejak dulu kampus ini telah menerima difabel untuk bisa studi lanjut. Dengan Lahirnya PLD, kampus ini lebih bisa melakukan pelayanan yang sebaik-baiknya. Lebih-lebih lagi dengan adanya dukungan dari Dirjen Dikti dan University of Alicante, Spanyol, diharapkan akan bisa segera didirikan organisasi difabel nasional yang akan memayungi berbagai PLD yang ada di kampus-kampus di Indonesia ini. University of Alicante, Spanyol memberikan dukungannya melalui program bernamaINDOEDUC4ALLyang akan berjalan sampai tiga tahun kedepan.Di mana Alicante sebagai koordinator menggandeng enam universitas di Indonesia untuk menjadi agen dari program tersebut. Ke-enamnya adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Surabaya, dan IAIN Surakarta.
Luis Gomez de Membrillera Desantes selakuInternational Officedari Universitas Alicante menjelaskan, Program tersebut dibentuk melihat optimisme dari progres yang ditunjukkan berbagai universitas di Indonesia, baik dalam membentuk layanan dan komitmen terhadap isu difabilitas. Melalui program INDOEDUC4ALL menurutnya, bisa memodernisasikanassisstive tekhnologiatau alat bantu teknologi bagi difabel di setiap universitas.
“Selain dari upaya penyadaran akses pendidikan untuk difabel yang kondisinya juga sama seperti di Alicante. Pada forum ini, program INDOEDUC4ALL saya launching,” tambah Luis.
Selain mengenalkan programINDOEDUC4ALL, Universitas Alicante melalui Direktur Unit Layanan Mahasiswa Difabel, Pepi Parreno menjelaskan kerja-kerja yang sudah dilakukan di universitas asal Spanyol tersebut. Kerja-kerja tersebut menurutnya tidak berbeda dengan apa yang juga dilakukan Pusat Layanan Difabel (PLD) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lebih jauh, Pepi selaku kepala Unit layanan menjelaskan, PLD di Universitas Alicante yang sudah berdiri 17 tahun lalu, berada di bawah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Ketenagakerjaan Universitas Alicante.
Terkait struktur unit layanannya yang diketuai Pepi sendiri, terdapat empat pekerja sosial, di mana salah satunya merupakan seorang sosialog. Selain itu ada dua ahli psikolog dan satu ahli seksolog yang berasal dari sumberdaya eksternal unit layanan. Sedangkan di dalam internal, ada satu orang yang ahli di bidangassisstive tekhnologiatau teknologi bantu untuk difabel.
Pepi juga menjelaskan tujuan dari unit layanan yang dikawalnya untuk menjamin partisipasi penuh dari mahasiswa difabel dengan prinsip kesamaan kesempatan dan aksesibilitas universal. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam setiap pengadaan program-program, serta ruang aspirasi dan menjadi pegangan dalam menjalankan misi penyadaran terhadap masyarakat kampus Alicante dalam memahami difabilitas.
Adapun kerja-kerja yang dilakukan yakni mengindentifikasi kebutuhan mahasiswa difabel, dan memberikan masukan sekaligus membuka layanan konseling. Kemudian membangun rencana aksi terkait program-proram yang akan dilaksanakan ke depan, membimbing dan memberi panduan kepada para dosen bagaimana melakukan adaptasi terhadap pembelajaran. “Sekaligus membuka layanan bagi keduanya,” terang Pepi.
Menurut Pepi, rencana aksi yang sedang berjalan di Alicante. Seperti mengidentifikasi dan mengorganisir mahasiswa difabel yang mau disebut difabel. Sebab menurutnya, tidak semua mahasiswa difabel mengakui kedifabelannya. Mereka juga mengajukan modifikasi tes, ujian dan membuat proposal untuk mengubah mekasnisme pembelajaran yang selama ini belum mengakomodir. Selain itu menginformasikan kepada mahasiswa pentingnya memiliki sertifikat difabilitas dalam workshop atau diskusi tentang difabilitas.
“Dan menjembatani lulusan mahasiswa difabel untuk masuk ke dunia kerja,” lanjut Pepi. Sedangkan dari aspek kerelawanan, ia mengorganisir relawan baik yang diberikan kepada orgnasisasi difabel di sekitarnya yang membutuhkan dan sebaliknya. Unit layanannya menerima relawan dari organisasi difabel. Di samping itu, juga mengadakan pelatihan kerelawanan.
Bagi Pepi, kerja-kerja unit layanan tidak berbeda dengan unit PLD di UIN Sunan Kalijaga. Kehadirannya dalam program yang akan mengajak enam universitas di Indonesia, untuk sama-sama belajar bagaimana menentukan strategi dalam memberikan layanan bagi mahasiswa difabel.
Arif Maftukhin, M.Si., ketua PLD UIN Sunan Kalijaga menjelaskan, untuk menuju kampus inklusi tidak hanya adanya unit layanan. Lebih dari itu, semua masyarakat kampus mulai dari dosen, mahasiswa, dan birokrasi turut serta mengusung dan mendorong kemudahan fasilitas dan pelayanan difabilitas dalam pendidikan inklusi. Dengan adanya program INDOEDUC4ALL dan support 6 PT lain, serta dukungan Dirjen Dikti yang pada forum ini diwakili oelh Rektor Universitas Lambung Mangkurat, pihaknya berharap, akses studi lanjut difabel di Indonesia ke PT semakin terbuka luas.
Rektor Universita Lambung Mangkurat menambahkan, Ke depan akan semakin banyak PT yang menyediakan kursi bagi para difabel. Hal itu telah diamanatkan dalam UU No. 8 Tahun 2016. Dunia kerja juga harus menyediakan porsi untuk lulusan difabel. Dengan prosentasi 100 formasi lapangan pekerjaan, 1 orang diantaranya untuk difabel. Hal ini berlaku untuk instansi pemerintah, perusahaan maupun lembaga swasta. Aturan ini belum banyak yang mengetahui, sehingga perlu terus disosialisasikan agar UU tak sekedar diwajibkan untuk lembaga pemerintah, tapi terimplementasi ke semua lapangan pekerjaan, dengan memberi kemudahan fasilitas untuk tenaga kerja difabel.
Pada forum ini, PLD UIN Sunan Kalijaga memberikan anugerah inklusi kepada beberapa orang relawan, yang telah berkontribusi, berdedikasi dan berkomitmen tak ternilai sejak berdirinya PLD UIN Sunan Kalijaga hingga sekarang, yakni: Kasman Ibnu (Relawan sebelum ada PLD dan ikut merintis berdirinya PLD), Aslamah dan Ragil Ristiyanti (text:Weni H/ Foto: Doni TW-Humas).

http://uin-suka.ac.id/id/web/berita/detail/1548/organisasi-difabel-nasional-dirintis-di-uin-sunan-kalijaga

Jumat, 20 Oktober 2017

Resep Membuat Bubur Pedas Khas Kalimantan Barat

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Ketemu lagi sama saya😊 kali ini saya akan memperkenalkan pada kalian makanan khas dari daerah asal saya yaitu Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Barat banyak makanan khas nya, kali ini saya akan membahas tentang bubur pedas. Kalian jangan berpikir bahwa bubur pedas adalah bubur yang pedas, itu salah besar. Walau pun namanya bubur pedas, tapi sebenarnya rasanya tidak pedas.
Bubur pedas terbuat dari beras yang ditumbuk halus dioseng dan kaya akan rempah serta sayuran, tidak heran jika bubur ini dinilai penuh gizi. Sayuran seperti kangkung, pakis, daun kesum menjadi campuran yang menyehatkan. Belum lagi paduan gorengan kacang tanah plus ikan teri yang digoreng kering menambah citarasa.
Jika kalian tertarik ingin mencoba bubur pedas, kalian tidak perlu pergi jauh-jauh ke Kalimantan Barat. Kalian bisa membuat bubur pedas sendiri. Berikut adalah resep membuat bubur pedas :


Bahan-bahan:
1. 500 gram beras, cuci bersih, tiriskan
2. 200 gram kelapa parut
3. 300 gram tetelan sapi atau daging ayam
4. 10 lonjor kacang panjang, potong-potong
5. 2 buah wortel, potong dadu
6. 100 gram ubi jalar, potong dadu
7. 2 ikat kangkung, potong-potong
8. 100 gram tauge
9. 100 gram rebung, diiris tipis-tipis
8. 3 ikat pakis, ambil daun dan pucuknya, iris tipis-tipis
9. 100 gram daun kesum, diiris tipis-tipis
10. 2000 cc air

Bumbu:
1. 4 lembar daun salam
2. 2 batang serai, memarkan
3. 4 cm lengkuas, memarkan
4. 6 butir bawang merah, haluskan
5. 2 siung bawang putih, haluskan
6. 2 buah cabai merah, haluskan
7. 1/2 sendok teh merica, haluskan

Pelengkap:
1. 200 gram kacang tanah, goreng
2. 100 gram ikan teri, goreng
3. Bawang goreng
4. Kecap manis
5. Jeruk limau
6. Sambal cair dari cabe rawit

Cara membuat:
1. Sangrai beras sampai kekuning-kuningan, tumbuk halus
2. Sangrai kelapa parut, tumbuk halus
3. Siapkan air, rebus tetelan hingga matang.
4. Masukkan bumbu halus, daun salam, serai, lengkuas. Aduk-aduk.
5. Tambahkan beras tumbuk, aduk-aduk
6. Masukkan wortel, kacang panjang, kangkung, ubi jalar, pakis dan daun kesum. Aduk-aduk, masak dengan api kecil hingga matang, angkat.
7. Sajikan bersama bahan pelengkap untuk taburan antara lain kacang tanah, ikan teri, bawang goreng. Kecap, sambal, jeruk limau, lebih baik disediakan terpisah agar bisa ditambahkan sesuai selera masing-masing.

*Kira-kira untuk 6 porsi

Itu lah tadi resep membuat bubur pedas, semoga membantu. Dan selamat mencoba😊

Rabu, 11 Oktober 2017

Profil PTIPD UIN SUKA


Profil PTIPD UIN SUKA

Film Pena UIN SUKA



Film Pena UIN SUKA

Pengalaman ICT UIN SUKA Yogyakarta

Hari ini, 12 Oktober 2017 saya mengikuti ICT di UIN SUKA Yogyakarta. Ini kedua kalinya saya mengikuti ICT, dengan adanya ICT ini sangat membantu saya. Hari ini kami mempelajari tentang blog. Yang awalnya saya tidak memiliki blog dan sekarang saya sudah memiliki blog yeyyyyyyy. Pada pertemuan minggu kemarin kami mempelajari tentang sukamail. intinya pada pelatihan ICT ini sangat membantu saya .

Memulai Kembali

       Awal mula membuat blog ini karena untuk tugas kuliah, dan setelah selesai perkuliahan jelas sudah tidak pernah membuka blog ini sama ...